
currently: uber-BT
ok. baiklah.
judul "aku ingin menikah" itu memang sebenarnya sangat-sangat- sangat-sangat berlebihan. (note to pacar: don't freak out. I'm not trying to tell you anything).
hari ini aku sebel se-sebel-sebelnya (tu temen lagu Malaysia yang 'rindu serindu-rindunya'), pasalnya lagi-lagi aku dianggap anak kecil oleh orang rumah. I mean, being the youngest dan satu-satunya anak papa yang masih tinggal di rumah, sebenarnya aku mengerti kalau papa sangat overprotective. sampai saat ini masih ada curfew, harus pulang sebelum maghrib, ga bole keluar malam kecuali penting atau berhubungan dengan pekerjaan (itu pun harus ada 1 day notice dulu). Tapi, hello... I'm 26...
Donna pernah tanya, "kamu ga ngerasa terkekang, sis?"
dan aku menjawab, "pada awalnya. tapi lama-lama saya terbiasa. klo saya punya anak perempuan nantinya juga akan saya perlakukan sama. yaaah... ga se'strict' ini sih... tapi dia harus punya batasan." malah terkadang ngerasa heran kalau pulang agak malem tapi nggak dicariin.
nah, apa hubungan dengan menikah?
papa pernah bilang kalau aku boleh bebas berbuat apa aja dan pulang jam berapa aja kalau aku sudah menikah. papa bilang, itu nanti jadi urusan dan tanggung jawab suamiku. huhuhuhuhu. emang sih, aku pernah baca, apa yang diperbuat oleh seorang anak akan jadi tanggung jawab ayahnya selama ia belum menikah, tapi masa' aku menikah hanya karena aku pengen bebas dari papa? nggak mungkin kan yaaaaaa...
*sigh*